Halaman

Selasa, 21 September 2010

Pasar Loak dan Kehidupan

Akhir-akhir ini saya kerap bertandang ke pasar loak. Dari predikatnya sudah mengabarkan segala apa yang dijual di sana. Semua barang yang pernah dipakai bahkan yang sudah rusak sekalipun tersedia di sana. Jumlahnyapun pasti menciptakan decak kagum...

Setiap ada kesempatan, saya pasti berkunjung, meski sekadar melihat-lihat saja. Pada para pedagang di pasar yang bersahaja ini - bersahaja, karena selain barang yang dijual, juga letaknya yang berada di bawah jembatan layang dan di samping rel kereta - saya mulai menikmati perilaku mereka. Karena mutu barang yang dijual 'seadanya', banyak pedagang yang tidak layak disebut pedagang. Mereka telah kalah sebelum bertanding. Jika ditanya tentang barang dagangannnya, mereka akan menjawab, "Silahkan saja dicek sendiri. Sebegitu adanya." Sangat pasrah.

Toh demikian, karena barang dagangannya tak pantas dilirik sekalipun, tidak sedikit pedagang yang menerapkan segala jurus tentang people skill dan marketing. Bahkan terkadang terkesan over-promosi.
Saya kira, jelas, mereka tidak mengenal siapa Dale Carnegie, Les Giblin, David J Schwartz, Andrie Wongso atau Mario Teguh sekalipun, tetapi komunikasi mereka, cara meyakinkan calon pembeli bak para motivator itu.

Teknik marketingpun sangat mereka kuasai. Mereka mahir marketing bukan karena mengikuti seminarnya Brian Tracy, James Gwee ataupun Tung Desem Waringin yang berbiaya jutaan rupiah. Mereka menjadi ahli karena didikan lingkungan dan tempaan kondisi. Selebihnya insting.

Tetapi ada yang sama dari pedagang-pedagang ini. Sehina apapun barang dagangannya, mereka tetap menghargainya. Ada Hape jadul - aku pikir pabriknyapun pasti sudah lupa cara bikinnya - dipajang di sana dan mereka, pedagang-pedagang ini, sangat merawatnya, menyapu pelan ssetiap debu yang menempel dengan sikat gigi bekas. Di sudut lainnya ada beberapa uang kertas yang bahkan sudah tak telihat gambar dan angkanya - BI pasti sudah lupa pernah menerbitkan uang ini - pun mereka sangat peduli, dibungkus dengan plastik-plastik bening dan dihargai sangat tinggi.
Intinya; dari tas rombeng, sepatu butut, kaset usang, sekrup berkarat, botol bekas, onderdil motor sampai baju lapuk semuanya ada dan keberadaannya sangat dihargai oleh para pemiliknya.

Hidup seyogyanya juga begitu. Betatapun rendah kualitas hidup seseorang di mata manusia lain, ada Sang Pemilik Sejati tetap menghargai kepunyaan-Nya. Bukanlah untuk sia-sia Dia ciptakan makhluknya. Dari seorang presiden sampai bakteri terkecil. Tidak ada yang sia-sia. Jika Tuhan saja menghargai kehidupan, mestinya kita, manusia, harus juga menghargainya.

Saya? Saya masih sangat jauh dari menghargai hidup. Karena saya masih terjebak pada penghargaan hidup dari apa yang terlihat oleh mata saja, bukan dengan rasa hati. Saya masih segan jika makan bersama pembantu, masih terlihat pongah di depan teman yang bernasib malang, masih tertawa keras jika ada orang terjatuh saat jalan, masih belum bisa menciptakan empati dengan fasih.

Yang paling tragis; pernah suatu waktu saya injak kecoa dengan gemas sewaktu ia melintas di depan mata. Hingga datang informasi bahwa sang kecoa tadi ternyata hendak menjemput mempelai perempuannya...

Maaf ya, kecoa. Semoga engkau berbahagia di alam sana...

3 komentar:

  1. a very good article, bro. insightful.

    eh, msh blm mau makan semeja dg pembantu, bro? aku bahkan minuman dari gelas minum dan sedotan bekas pembantuku ga segan kuminum :) intinya mmg hrs berusaha memaknai bahwa semua manusia itu sama di hadapan Allah serta hanya dan hanya takwa yg membedakannya.

    BalasHapus
  2. Tengkyu pencerahannya... Ini bukan curhat sejati kok... di rumahku nggak ada pembantu hehehe... Berusaha merefleksi saja kebanyakan manusia.

    BalasHapus
  3. hahaha kecoanya habis aq usir dari rmhku tuh, hewan paling menjijikkan bagiku hiiyy..

    nice posting!

    BalasHapus