Bulan puasa lalu, di siang yang terik. Matahari sedang semangat-semangatnya membakar punggung bumi. Sebuah suasana maha dahsyat di hari puasa. Dahsyat, karena suasana puasaku selalu terlindung oleh ruangan yang cukup dingin ber-AC. Jadi manakala harus keluar dan bertemu matahari, mendadak matahari menjadi musuh puasaku.
Karena dituntut sebuah keperluan aku pergi ke sebuah bank. Panasnya siang tersempurnakan dengan debu dan asap dari knalpot kendaraan yang saling memburu...
Tanpa berpura-pura lemah, kaki ini memang terasa berat diajak melangkah. Tetapi bukan drama lemahnya raga berpuasa dan terpaksa berpanas-panas di rimba Jakarta, atau laparnya perut dan keringnya kerongkongan karena waktu berbuka memang masih lama.... cerita terjadi justru saat pada antrean di bank.
Begitu membuka pintu bank, ternyata antrean sudah jauh melewati pita biru sebagai batas akhir antrean. Beberapa orang yang masuk hampir bersamaan denganku, setengah berlari berebut mengambil formulir aplikasi. Agaknya kami cukup cemas dengan pemandangan tadi, sehingga berebut formulir adalah langkah pertama yang dinilai paling bijaksana. Siapa cepat mengisi formulir, maka dia yang pertama berdiri di antrean.
Tibalah saat mengantre. Belumlah lagi lima menit berdiri, betis rasanya seperti mau lepas dari perlengketannya dan lutut ini rasanya sudah semakin gemetar. Gemetarnya lutut bukan hanya karena semakin menipis energi di tubuh, tetapi juga dikarenakan hasil hitungan antrean. Aku berdiri pada urutan ke-25... Jadi kalau rata-rata satu orang dilayani selama dua menit, berarti kakiku harus ada energi cadangan setidaknya kuat untuk berdiri selama 50 menit!!
Hal kedua yang membuat gemetar adalah, selain mempersiapkan energi berdiri selama hampir satu jam, pikiran ini sudahlah bisa membayangkan betapa harus kembali ke kantor dengan berjalan kaki lagi, bertemu panasnya matahari. Sungguh masa-masa yang menakutkan bagi orang yang berpuasa tapi takut tantangan ini... Sebuah kualitas puasa yang benar-benar awam.
Siang itu memang tamu bank datang begitu banyaknya. Karena belum sepuluh menit berdiripun, para pengantre di belakangku sudah banyak. Menyambung antrean.
Kecemasan ini semakin membesar, karena perhitunganku salah total. Perkiraan awal yang dua menit per orang, bisa bermenit-menit. Belumlah lagi ternyata loket yang dibuka lebih sedikit katimbang loket yang tersedia. Semakin lama kulihat barisan depan, semakin bertambah getaran lututku. Detik jam sepertinya berjalan melambat. Mungkin sedang berpuasa juga jam di bank ini.
Aku yakin, saat itu wajahku menegang dan kepala ini semakin mengepul saja rasanya. Tiba-tiba aku merasakan menjadi manusia yang comel, cerewet, walaupun sebatas di hati saja.
Jika ada pengantre yang berlama-lama sambil sok akrab dengan petugas teller di loket, aku langsung berpikir," Ah, biar dibilang 'nasabah senior'... Hal-hal sepelepun ditanyakan."
Jika ada petugas yang hanya berdiri saja, melihat teman-temannya melayani pengantre, hati ini langsung usil," Itu ngapain nggak kerja?? Berdiri saja bisanya. Bukain loket sebelah kek!"
Dan ada pula pengantre di barisan depan yang hampir sepanjang antreannya, selalu menelpon orang. "Sok sibuk!" demikian celoteh batinku.
Sungguh mempertegas kualitas puasaku. Sangat awam.
Di saat-saat kritis inilah terjadi perubahan paradigma. Perubahan cara pandang. Entah energi dari mana yang mengarahkan pandangan tidak pada barisan depan (karena di samping memang masih jauh dari loket, toh tidak ada satupun pengantre yang sedap dipandang). Pandanganku beralih pada orang yang menjadi pengekorku. 'Pengikut' ini ternyata berjumlah 13 orang... Mendadak sontak terceriakan wajahku oleh mereka, para pengikutku yang begitu setia berdiri di belakangku, mengikuti setiap langkahku. Pemandangan ini jelas sangat menghiburku. Memerhatikan mereka adalah cara jitu sebagai penghiburan, tak peduli betatapapun masih panjang antrean di depanku.
Aku memilih melihat terus ke belakang, supaya selalu bisa 'mengontrol' para pengikut ini.
Aku langsung memproklamirkan diri sebagai pemimpin mereka.
Saat aku maju selangkah, merekapun maju selangkah. Saat aku tak kunjung bergerak, semantara antrean di depanku sudah maju, pengikut-pengikut inipun mematung di tempatnya.
Lucu sekali mereka ini...
Melihat mimik mereka adalah kesegaran luar biasa. Wajahnya pasti lebih tegang dariku,memerah seperti memendam amarah. Aku yakin jika masing-masing ketiak diukur, semua termometer akan membengkok karena panasnya.
Denyut jantungnya terdengar riuh rendah. Mereka sangat berdebar, sementara aku sudah menemukan kedamaian saat pertama melihat mereka. Kecemasan mereka adalah kedamaian tiada tara buatku.
Lutut mereka? Lutut merekapun pasti lebih gemeteran katimbang lututku.
Sungguh suasana yang memesona...
Maka untuk siapaun yang sedang dalam kegalaun, rasa sakit, sedih, keputusasaan, cepatlah berpaling dari mereka. Yuk, kita cari penghiburan...
Untuk para ABG yang gusar karena jerawat yang tampil di dahi tanpa permisi. Tak perlu risau, jerawat memiliki umur sendiri, dia akan mengempis sendiri untuk kemudian berpindah ke tempat lain. Lucu bukan? Katakan saja pada teman dengan semangat," Heh, sobat, lihat, aku punya jerawat yang memiliki kualitas seperti imigran! Sekarang di dahi, besok-besok ada di pipi. Kadang bergerombol, kadang sendiri-sendiri."
Karyawan yang tak kunjung dipromosi sementara pensiun sudah menjelang. Jangan galau. Lihat saja para mahasiswa yang sangat idealis itu, tetapi kemudian menjadi manusia-manusia tanpa mesiu karena ribuan fotokopi legalisir ijazahnya kalah oleh ucapan "Maaf, ya Dik, belum ada lowongan". Mereka tentu lebih menderita katimbang Anda yang sudah menyandang gelar karyawan dan memiliki pendapatan bukan?
Untuk yang sedang berusaha mencari pekerjaan. Jangan bebani pikiran dengan kalimat "Aku seorang penganggur". Anda bukan pengangguran. Lihat, Anda sedang berusaha mendapat pekerjaan bukan? Jadi Anda sedang bekerja. So, asyik-asyik sajalah. Manakala lamaran ditolak, katakan saja dengan suka cita," Terima kasih, Pak, Anda memberi kesempatan saya untuk bekerja lagi. Berusaha lagi mencari kantor yang cocok untuk saya."
Selamat bersenang-senang dan bersuka cita........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar