Menyaksikan betapa kuatnya magnet lebaran membuat leher ini tidak bisa berhenti untuk menggeleng. Betapa tidak, manusia sekian juta merasa harus untuk mudik secara kompak ke kampung halaman. Celakanya, hampir seluruh kantor meliburkan pekerjanya secara bersamaan. Tak ayal lagi, banjir manusia terjadi di jalan-jalan. Dari kota besar untuk kemudian berpencar ke wilayahnya masing-masing. Ke kampungnya masing-masing.
Sekarang coba kita tanya kepada mereka-mereka yang termasuk pada pawai masal ini. Mereka memiliki jawabannya sendiri-sendiri.
“Oh, ini kan lebaran, Om, kesempatan ngumpul sama keluarga… Kapan lagi?”
“Om, anak istri saya kutinggal di kampung. Kalau bukan lebaran, kapan lagi aku bisa ketemu mereka?”
“Orang tuaku masih ada di kampung, Om… Mereka ini kan “jimat”. Selayaknya “jimat” ya harus dipelihara, didatangi, disungkemi… Iya kan?”
Ada yang lebih singkat lagi, sederhana tapi terkesan seadanya, “Menjaga silaturahmi.”
Ah, tetapi sepertinya magnet lebaran tidak berhenti pada alasan-alasan di atas.
Jauh lebih komplek.
Mudik adalah kesempatan memberitahukan kepada halayak bahwa sang perantau sudah sukses di kota. Si pecundang kini tidak bisa dianggap remeh lagi.
Kriteria suksespun bermacam-macam. Tergantung mashab masing-masing. Tergantung cara pandangnya masing-masing.
Ada yang merasa sukses jika sudah berpenampilan perlente. Berkacamata hitam, pun tak peduli hari sudah mulai gelap.
Sukses adalah bila sudah berkendaraan pribadi, tak peduli hasil sewaan.
Ada yang nekad dengan membawa kendaraan umum yang dipaksa “menerjang” trayeknya sendiri. Ya, dia cukup sukses dengan menunjukkan, “Saya sudah bisa nyetir mobil.”
Yang menjadi sopir pribadi, bila perlu merengek-rengek (menangis meraung-raungpun tak apalah) kepada majikan supaya sudi meminjamkan mobilnya untuk dibawa pulang mudik. “Bos, beri saya kesempatan jadi orang sukses. Sekali iniiii… saja, Bos?”
Alih-alih mencari sopir pribadi memang sulit, sang majikanpun ( secara rela atau terpaksa) meminjamkan mobilnya, sebagai agunan sang sopir akan kembali lagi padanya.
Berita-berita di TV lebih mencengangkan lagi. Betapa “kewajiban” mudik menjadikan seseorang gelap mata untuk kemudian menjambret, merampok bank, mempreteli perhiasan anak kecil dan seabrek kriminalitas lain semata-mata hanya untuk bisa beli tiket mudik, bisa tampil “wah” di kampung.
Inilah magnet lebaran…..
Ini baru pada persiapan mudiknya. Belumlah lagi pada saat mudiknya itu sendiri.
Lihatlah betapa para perantau ini tiba-tiba menjadi manusia yang hiruk pikuk, sibuk sendiri. Kardus-kardus dicari untuk mengepak barang bawaan. Jangan sampai ada yang terlupa. Episode inipun bisa membuat suami istri tiba-tiba menjadi centang perenang. “Sarung buat Bapak jangan lupa lho, Yah!” ujar si ibu mengingatkan si ayah. Sang ayah tak kalah sengit,” Celana dalamku jangan sampai kurang lho ya,… di kampungmu kan susah cari toko yang jual celana dalam!”
Anak-anakpun tak mau ketinggalan. Keberangkatan baru sore nanti, tapi mereka sudah berdandan rapi sejak bangun subuh tadi. Tak ayal, jam keberangkatan yang masih lama ini justru membuat mereka uring-uringan sendiri. Anak yang uring-uringan malah memancing emosi orang tuanya. Rumah yang damai, tapi menjelang mudik, tiba-tiba menjadi gusar.
Pendeknya semua menjadi sibuk dan rawan. Ya yang berkeluarga, ya yang bujangan, ya yang anak-anak, ya yang kakek nenek. Semuanya berpotensi menjadi manusia dengan ambang emosi yang rendah; mudah tersulut amarah.
Lihatlah para pengantre tiket yang rela bermalam di terminal dan stasiun untuk kemudian menjadi kecewa lantaran tiket yang digadang-gadang ternyata telah ludes sebelum waktunya, bahkan sebelum loket dibuka. Kemudian mereka kembali ke tabiat orisinal mereka, menjadi pemarah dan mudah naik pitam. Yang masih lumayan kontrol emosinya, melampiaskan amarahnya dengan cara menggebrak meja, yang kadung lepas kontrol, memecah kaca loket bahkan memukul petugas loket.
Puasa yang katanya meredam amarah tak berlaku jika berkaitan dengan persiapan mudik yang terusik…
Inilah magnet lebaran…
Tibalah saatnya di perjalanan…
Ada yang berkendaraan pribadi, ada yang berkereta api, ada yang dengan bus, ada yang dengan bak terbuka, bahkan ada yang “memperkosa” bajaj-nya, ada yang nekad dengan motornya (ada yang lebih nekad lagi dengan “membekap” anak kecilnya ditambah kardus-kardus bawaan yang diikat di belakang motor). Ada yang sendiri-sendiri, ada yang berkonvoi.
Bagi yang memiliki akun jaringan sosial semacam facebook ataupun twitter, tiba-tiba mereka menjadi reporter suka rela. Betapa tidak, saat memasuki wilayah baru, di setiap titik macet, di setiap tempat peristirahatan, saat ada kecelakaan, mereka segera meng-update statusnya. Yang memberi komentarpun temannya sendiri; dari bangku sebelah.
Mereka berduyun-duyun secara berjamaah, menjejali jalan-jalan. Berjalan merayap. Sungguh karnaval masal yang menciptakan decak kagum.
Kalau para alien dari luar angkasa sana, yang konon memiliki teknologi maha canggih, menggunakan teleskopnya untuk melihat karnaval kolosal ini, mereka pasti akan terpingkal-pingkal melihat perilaku manusia ini. Karena merekapun sudah berhitung, bahwa dua-tiga hari setelah lebaran, manusia-manusia inipun pasti berduyun-duyun kembali ke kota bahkan seringnya dengan jumlah yang jauh lebih besar lagi…
Inilah magnet lebaran…
ya ya ya....magnet lebaran,ada yang kurang bang...obat anti mabuk mendadak laku keras,tiba tiba saja dipasar kampungku terdengar suara loe gue loe gue mirip artis artis yg nongol di infotaimen itu loh,padahal di sono...mereka tiap harinya berjibaku sbg pemulung,pembantu,buruh bahkan pengamen (moga aja gak ada yg jd copet ma perampok ya bang) Tapi peduli amat ya...yg penting kan keliatan nggaya dan bisa pamer setahun sekali xixixi...,betapa haus orang orang kita untuk "diakui keberadaanya" .anda sendiri...termasuk anggota karnaval masal kan. okey,tak tgu catatan yg lain.
BalasHapus