Halaman

Sabtu, 21 Mei 2011

Cinta dalam Sepotong Negeri

Inilah tentang cinta itu… Cinta yang selayaknya menghasilkan rasa indah nan syahdu itu mendadak justru berbuah drama yang paling menegangkan.
”Cintailah produk-produk Indonesia”. Acapkali ajakan ini muncul di tivi, spanduk-spanduk maupun pamplet-pamplet di jalanan, di pasar, di mal-mal hingga menyasar di ujung-ujung kampung.
Tetapi bagiku ajakan ini harus dibarengi juga dengan rasa waspada cenderung kebencian ekstra. Jadi menjadi aneh, betapa cinta ini justru berpotensi menghasilkan rasa benci.
Untuk mencintai produk-produk bangsa sendiri itu sama artinya saya dipaksa untuk memakai dan menyetiai barang-barang yang justru menciptakan rasa takut itu.
* * *
Di Jakarta, meski tak setiap hari memakai jasa Trans Jakarta, tetapi setiap kali kutunggu bus ini, kesabaranku teruji karena jadwal kedatangannya yang sering tak terduga. Ditunggu hingga leher memanjang layaknya jerapah, bus tak muncul juga. Sesekali mereka muncul malah pawai tiga bus beriringan.
Jamak bagi semua orang, tak nyaman rasanya diuji, apalagi yang diuji itu adalah kesabaran. Meski bisa tertahan, tapi mimik wajah tampaknya tak bisa kami sembunyikan. Masing-masing dari para penunggu pasti memerah mukanya dan menggerutu.
Dan begitu moncong bus ini terlihat, berganti dengan denyut jantung yang menderu dengan gegap gempita. Berharap mendapat tempat duduk. Ya, bagi si capek kaki ini, kursi adalah pengharapan tak tergantikan betapapun untuk mendapatkannya harus saling menyerobot satu sama lain.
Demikianlah, atas layanan bus yang digadang-gadang bisa menekan kemacetan di Jakarta ini, aku disuruh untuk mencintainya. Cinta yang membuahkan rasa kesal.
* * *
Kali ini giliran kereta api. Setiap kunaiki ular besi ini, pada setiap kaca jendelanya pasti ada yang retak terhantam batu. Sudah berapa banyak berita tentang penumpang yang benjol kepalanya bahkan sampai pingsan gara-gara batu yang nyelonong dari luar sana tanpa permisi menghantam kepala.
Hingga setiap kali kunaiki kereta republik ini, jantung berdegup kencang. Berharap supaya tak ada batu yang bertandang menembus jendela.
Dan pada kualitas layanan publik yang satu inipun, aku disuruh untuk mencintainya.
Cinta yang memproduksi ketegangan tingkat tinggi.
* * *
Pantura.. oh, pantura. Entah berapa lapis aspal lagi yang akan dihampar di atasnya. Jalur propinsi ini pada setiap tahunnya pasti mengalami polesan. Digulung aspal lamanya untuk kemudian ditambal dengan lapisan aspal baru.
Yang tak habis dipahami, kenapa proyek selalu dilakukan menjelang lebaran di mana jalur ini mengalami kepadatan kendaraan.
Mutu aspal yang mestinya nomor wahid, tetapi ternyata mereka ini mudah sekali lapuk terguyur hujan dan terlindas ban.
Tak ayal, setiap kali kulewati jalan ini menjelang lebaran, adalah drama kemacetan yang pasti diiringi dengan kegelisahan dan amarah. Puasa yang mestinya menciptakan kesabaran tak berlaku saat melewati jalanan yang bopeng-bopeng ini. Kesabaran kembali diuji.
Dan lagi-lagi, pada produk proyek semacam inipun aku disuruh untuk mencintainya.
Sungguh cinta yang penuh keterpaksaan.
* * *
Trotoar di kotaku dimana kutinggal pun tak mau ketinggalan meramaikan pembangunan yang hiruk pikuk. Pembangunan ini menimbulkan decak keheranan.
Barulah mata ini segar demi melihat trotoar yang ditata ulang, bersih dan rapi. Mata kembali melotot keheranan begitu tiga bulan berselang, trotoar mesti dibongkar. “PLN mesti menanamkan kabelnya,” begitu kira-kira kilahnya. Hingga dua bulan proyek PLN-pun kelar..
Dan, astaga! Apa kali ini? Mendadak TELKOM-pun menjadi latah. Trotoar yang belum kering lukanya oleh PLN itu juga harus dibongkar paksa. Digali lagi dalam-dalam. “Saya juga harus menanam kabel dong,” begitu belanya.
Dan akhirnya PDAM pun ikut menyempurnakan kegaduhan ini. “Saluran air kami pun mesti kami tanam.”
Pada metode pembangunan yang bikin geram inipun aku disuruh mencintainya.
* * *
Dan yang membuat aku kaget bercampur ngeri adalah ternyata di rumahku sendiri ada sesosok barang kecil yang memiliki kualitas teror luar biasa. Padanya pula aku disuruh untuk mencurahkan segala perhatian dan kesetiaan.
Tetapi ianya pula yang telah banyak melukai dan merenggut nyawa rakyat republik ini.
Ia mendekam di dapur.
Elpiji ijo...
Dalam diamnya saja, ia sudah mampu menggetarkan perasaan. Betapa si imut, hijau nan anggun ini memiliki potensi daya ledak yang luar biasa. Hanya karena kebocoran seujung jarum saja ia mampu membumihanguskan sekujur rumah.
Sekiranya Densus 88 mau bertandang ke rumahku, maka si keong ijo inilah yang pertama kali aku laporkan sebagai teroris.
* * *
Dan.. begitu essai ini selesai untuk kemudian kubaca ulang... Mendadak ubun-ubun ini mengepul. Tak tahu lagi, mesti dari sisi mana produk negara ini layak kucintai....

1 komentar:

  1. Aku mencintaimu apa adanya karena aku butuh hahaha apalagi kereta, everyday tu ular besi aku tumpangi, dari berbagai kelas sudah aku jabanin, baik yang AC dengan banyak orang perlentenya sampai yang ekonomi dengan banyak orang kerenya. Dualisme yang sangat berbeda meski tidak sedikit orang ekslusif mau menumpangi kereta kelas ekonomi yang jujur memang harganya sangat ekonomi, untuk sampai ke kantor saya dibilangan jakarta pusat cukup merogoh saku 1500, belum disambung pake ojeg atau bajaj tapinya....
    Bagaimanapun produk itu diciptakan oleh manusia yang tiada sempurna, sesempurnanya manusia pastilah ada cela...so tetap semangat mencintai produk negeri ini, :)

    BalasHapus