Pada setiap kali ada kesempatan, saya seringkali memerhatikan pasien-pasien yang tengah menunggu kedatangan dokter di lobi sebuah klinik.
Telah menjadi kesepakatan kolektif bahwa menunggu adalah aktivitas yang membosankan. Membosankan karena pada saat menunggu itulah aktivitas dipaksa untuk menjadi tidak produktif. Menunggu ini pasti menjadi amat menderita apalagi sang penunggu adalah pihak yang didera sakit. Sekujur tubuh rasanya semakin ngilu menggigil.
Toh demikian, sang dokter ternyata datang terlambat.
“Berapa lama lagi,Mba, dokternya?” tanyanya kepada petugas.
“Sekitar lima belas menit lagi,” jawabnya singkat.
Jawaban yang sarat spekulasi. Betapa jawaban singkat ini memiliki potensi ketegangan luar biasa. Karena lima belas itu bisa saja kemudian berubah menjadi dua puluh, tiga puluh bahkan enam puluh menit. Atau bisa jadi lebih dari itu? Celaka!
Sudahlah sakit, disuruh menunggu pula. Sudahlah menunggu, kedatangan yang ditunggu tak pasti pula. Sudahlah tak pasti, di ruang tunggu, acara tv yang disuguhkan tak menarik pula.
Pada situasi semacam ini, acara seburuk apapun harus mereka nikmati. Ini pasti akan memperberat penderitaannnya. Sang pasien dipaksa menyediakan lebih banyak lagi stok kesabaran.
Ternyata penderitaan ini belumlah selesai. Karena setelah bertemu dokter dan menerima resep, resep tak dapat ditebus secara sempurna. Karena obat yang diresepkan ternyata tak tersedia di apotek klinik tersebut. Si sakit pun harus memeperpanjang masa kesabarannya untuk menebus obat di apotek lain.
Jika Anda memperkenankan saya untuk memperpanjang drama ini, sehingga bisa saja si pasien benar-benar kesulitan untuk mencari obat yang diresepkan. Meski akhirnya didapat pula obat tersebut. Sang pasien musti melewati proses panjang. Setelah berjuang , mondar-mandir, dari satu apotek ke apotek lain. Dan ini adalah apotek yang kesebelas.
Hari pun sudah larut. Maka si sakit yang seyogyanya butuh istirahat lebih dari cukup untuk mengumpulkan segenap energi guna kesembuhannya, justru telah terkuras habis hanya untuk mencari obat.
Itulah ujian kesabaran. Manakala manusia berniat untuk meningkatkan kualitas kesabaran, maka serta merta Tuhan akan segera mengirimkan kejadian-kejadian yang paling menjengkelkan.
Maka percayalah, di segenap ketidaknyamanan, di setiap drama yang paling mengharu biru, di sana terselip mutiara-mutiara kesabaran.
Sekali lagi. Jika kita berniat meningkatkan kesabaran, tunggulah kejadian menjengkelkan apa yang bakal menjelang.
Coba saja…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar