Ternyata untuk membuat pihak lain berbahagia banyak caranya. Bahkan acapkali dalam rangka membahagiakan ini, tak melulu dengan tingkat kepandaian mahir atau kemampuan humor yang mumpuni.
Bahkan dengan kebodohan, kealpaan dan ketidaktahuan kita pun orang bisa berbahagia.
Pada suatu kesempatan , saya mencucikan motor di sebuah tempat pencucian motor. Dengan berkeringat , si pencuci motor ini membaluri motor dengan sabun dan membersihkan bagian-bagian tersembunyi sekalipun. Jika tak terjamah oleh kain lapnya, ia akan menyikat tiap celah dengan sikat gigi bekas. Pendeknya, sekujur motor tak ada yang luput dari jamahannya.
Menyaksikan orang lain yang berpeluh-peluh untuk melayani diri kita adalah sensasi tersendiri. Maka sensasi ini pulalah yang sebetulnya terjadi saat kita berkeringat melayani pihak lain. Karena kepuasan dilayani merupakan hukum alam yang tak terbantahkan.
Pada si pencuci motor ini lah sensasi itu sedang saya peragakan.
Dalam sekejap motor yang tadinya berselimut lumpur dan debu berubah menjadi mengkilap.
Dan episode yang menegangkan itu justru dimulai setelah proses mencuci itu selesai.
Ternyata sang motor tak mau menyala betapapun saya mengengkolnya sedemikian rupa. Keringat panas karena engkolan dan keringat dingin karena gelisah bercampur membasahi tubuh.
“Wah, ini businya pasti terguyur air!” Batin saya.
Si pencuci motor tadi menuruti nalurinya dengan membantu semampunya. Dia sekarang yang mengengkol. Bertubi-tubi. Motor tetap bergeming membisu.
“Dorong aja, mas. Aku yang dorong.” Begitu pintanya.
Maka didoronglah motor ini. Namun apa lacur, motor masih pada pendiriannya semula. Bahkan setelah beberapa kali dorongan pun kejadian masih sama semata.
“Ke arah tanjakan saja, Mas. Nanti turunnya didorong,” pintanya kemudian.
“Baiklah. Baiklah. Tak ada salahnya dicoba. Toh kewajiban kita sekadar berusaha,” batin saya menghibur diri.
Kami menuntun motor celaka ini menuju tanjakan. Dan begitu sampai di puncak tanjakan, kami putarbalikkan motor dan naiklah saya ke motor dengan si pencuci motor mendorong dari belakang. Jantung kami makin berdegup kencang manakala motor ini mulai menggelontor turun dengan cepat. Hasilnya? Di luar dugaan. Motor tetap membisu.
Kami dibikin megap-megap olehnya. Rambut rasanya mulai keriting oleh hawa panas amarah yang mengepul di ubun-ubun.
Kali ini si pencuci motor berinisiatif mencopot busi dan membersihkannya. Begitu busi di pasang kembali, ia mengengkol lagi. Bertubi-tubi lagi. Hasilnya gagal sempurna.
Seperti tidak percaya dengan hasil kerjanya semula, si pencuci motor ini kembali mencopot busi. Ia keringkan lagi. Ia gosok lagi.
“Ada sering kejadian begini, nggak?” Saya bertanya. Sebuah pertanyaan retorik sebetulnya. Sebuah pertanyaan yang saya sendiri tak peduli apa pun jawabannya. Pertanyaan ini sebetulnya juga menyimpan makna bersayap yang jika diperpanjang akan keluar kalimat begini: “Jika hanya dengan mencuci motor saja, engkau juga mengguyur businya, maka pekerjaanmu ini tak layak untuk diberi apresiasi.”
Saya kembali ke watak semula; menjadi rawan naik pitam jika kenikmatan dilayani sirna oleh bentuk layanan yang justru menciptakan kekecewaan.
Tetapi perilaku buruk sangka saya ini harus saya tarik kembali. Karena pada saat si pencuci motor jongkok melepas busi, di saat yang sama pula saya teringat ada saklar rahasia di bawah jok motor. Dan kemudian saklar rahasia ini saya on-kan hampir berbarengan dengan si pencuci motor selesai memasang kembali busi.
Yes! Pada detik ini saya sudah menyiapkan teriakan kemenangan.
“Nah, coba, Mas engkol lagi sekarang,” katanya sembari bangkit dari jongkoknya. Sekarang peluhnya sudah nampak berkubik-kubik. Kernyit dahinya mendeskripsikan sebuah keputusasaan.
Kali ini dengan yakin saya tak perlu mengengkolnya. Saya pencet tombol starter. Dan… mesin motor menyala nyaring. Hahaha… saya terbahak dalam hati.
“Wah, berarti memang gara-gara businya tadi, Mas,” si pencuci motor menegaskan. Tawa batin saya makin tergelak.
Wajahnya berseri. Air mukanya menampakkan kepuasan tingkat tinggi. Terjemahannya kurang lebih begini: “Jika tidak karena aku bersihkan businya, motor ini pasti akan tetap ngadat!”
Perasaan berjasa dan menjadi pahlawan itulah yang tengah ia peragakan.
Dan apa yang saya lakukan kemudian? Berterus terang bahwa motor ini menyala bukan karena busi yang ia bersihkan, tetapi karena saklar rahasia yang saya on-kan? O.. saya tak sampai hati menyampaikannya. Saya biarkan kebahagiaan ini menancap di hati si pencuci motor ini. Saya tak hendak merenggutnya.
Memang ada kebenaran yang tak perlu muncul ke permukaan bahkan harus tersimpan rapat demi kebahagiaan pihak lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar